<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5932126180387242956</id><updated>2011-04-21T14:46:35.575-07:00</updated><category term='profil sekolah'/><category term='technology'/><category term='Geografi'/><title type='text'>Nugraha's news</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nugrahanews.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nugrahanews.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nugraha's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17733980804747855374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5932126180387242956.post-3859710253062558636</id><published>2008-11-28T19:57:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T19:58:56.300-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='technology'/><title type='text'>Teknologi Masa Depan</title><content type='html'>&lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);" class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://berbagai-informasi.blogspot.com/2008/11/teknologi-masa-depan.html"&gt;Teknologi Masa Depan&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;    &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Pergi bekerja dari rumah ke kantor dengan cara terbang menggunakan roket di punggung mungkin akan terjadi pada tahun 2030.&lt;br /&gt;Itulah perkiraan yang disampaikan oleh seorang panelis pada Diskusi ”Sewindu Reformasi Mencari Visi Indonesia 2030”. Tidak hanya orang, mobil pun bisa terbang. Dahsyat dan menakjubkan jika hal itu benar-benar terjadi nanti.&lt;br /&gt;Mereka-reka apa yang akan terjadi di Indonesia 25 tahun yang akan datang memang tidak mudah karena itu menyangkut perjalanan bangsa Indonesia dan umat manusia di dunia dalam satu generasi.&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin nanti robot akan memiliki perasaan seperti manusia melalui rekayasa DNA. Sebaliknya, sebagian perangkat tubuh manusia akan ditambah dengan peralatan robot. Misalnya, pada sebagian tangan atau kaki manusia nanti ada perangkat robotnya sehingga dapat memiliki tenaga ekstra untuk bekerja atau berkarya melebihi manusia yang hidup pada zaman sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Sangat boleh jadi nanti manusia bisa melihat kehidupan masyarakat di masa depan setelah ”dikirim” melalui perangkat yang disebut lorong waktu (time tunnel) sehingga bisa mengetahui atau bahkan bisa mencegah kemungkinan hal-hal yang bisa membinasakan kehidupan umat manusia di masa datang.&lt;br /&gt;Jika kita membayangkan itu semua, sepintas mungkin seperti mimpi atau sama seperti kita menyaksikan film-film fiksi sains di layar kaca atau bioskop.&lt;br /&gt;Namun, hal itu sangat mungkin terjadi melalui revolusi teknologi dan bioteknologi. Sebaliknya, jika kita melihat kondisi Indonesia sekarang, yang kita saksikan adalah arus deras masuknya barang-barang dan perangkat teknologi impor.&lt;br /&gt;Sebagian dari kita merasa bingung dan terkaget-kaget pada perkembangan teknologi itu. Namun, sebagian lagi merasa tertantang oleh arus masuk teknologi modern dalam ranah kehidupan kita sehari-hari. Sebagai pengguna, adakalanya sebagian dari kita gagap dan bingung menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung cepat ini.&lt;br /&gt;Contohnya, ketika sejumlah menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu dilengkapi dengan alat kerja canggih untuk dapat mengirim dan menerima surat elektronik melalui sebuah gadget, sebagian di antara mereka ada yang gagap teknologi atau gaptek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di antara penentu kebijakan masih ada yang lack of technology (kurang paham teknologi), sangat bisa dimaklumi kalau masyarakat pada umumnya juga kesulitan untuk dapat menerima teknologi baru. Bagi sebagian orang, cara berkomunikasi seolah dianggap baru sempurna kalau dilakukan secara lisan dengan bertatap muka secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam cara kita bekerja, adakalanya pergi ke kantor merupakan suatu keharusan. Padahal, di era serba cepat seperti sekarang, pekerjaan selayaknya berorientasi pada memaksimalkan output (hasil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pekerjaan tertentu, tidak mutlak lagi harus dikerjakan di kantor, tetapi bisa juga dikerjakan di rumah. Oleh karena itu, akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah small office home office (SOHO).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era serba teknologi seperti sekarang, cara berkomunikasi dan melakukan transaksi bisnis yang efektif tidak selalu harus melalui cara bertatap muka meskipun hal itu bisa menimbulkan gugatan dari aspek budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui, pada tahun 1990-an, transaksi perbankan masih dilakukan secara konvensional, di mana nasabah yang hendak mentransfer uang masih harus mendatangi kantor bank dan bertemu langsung dengan customer service. Kalau banyak yang akan melakukan transaksi, para nasabah harus bersabar untuk antre. Kondisi ini tentu saja sangat menyita waktu dan sering menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kini, transaksi perbankan sudah bisa dilakukan dalam waktu cepat melalui internet banking. Melalui sentuhan tangan di keyboard komputer yang terhubung ke jaringan internet atau melalui smartphone, sekarang nasabah sudah bisa melakukan transaksi perbankan dari mana dan kapan saja. Perkembangan teknologi informasi mampu mengatasi dimensi waktu, ruang, dan jarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan komunikasi yang berkembang demikian pesat telah banyak membantu umat manusia dan sejumlah perusahaan di jagat raya ini untuk saling berinteraksi dan melakukan transaksi bisnis satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengiriman berita dari atas pesawat kepresidenan yang sedang mengisi bahan bakar di Bandara Hongkong bisa dilakukan penulis dalam waktu relatif singkat melalui sebuah gadget, ketika mengikuti rombongan Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara pandang dan perilaku orang dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga bisa mengubah mekanisme kerja sebuah perusahaan. Adakalanya perkembangan teknologi informasi yang berlangsung dengan cepat bisa melampaui perkembangan perusahaan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, perusahaan yang lambat dalam mengikut perkembangan teknologi bisa jadi akan tersisih dari dinamika masyarakat dan kemungkinan bisa kalah dalam persaingan usaha. Saat ini jaringan internet relatif sudah memasyarakat meskipun di Indonesia masih terbilang mahal untuk bisa memakai internet, bila dibandingkan dengan di negara maju.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5932126180387242956-3859710253062558636?l=nugrahanews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nugrahanews.blogspot.com/feeds/3859710253062558636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5932126180387242956&amp;postID=3859710253062558636' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/3859710253062558636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/3859710253062558636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nugrahanews.blogspot.com/2008/11/teknologi-masa-depan.html' title='Teknologi Masa Depan'/><author><name>Nugraha's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17733980804747855374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5932126180387242956.post-5064043140840754553</id><published>2008-11-28T19:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T19:57:21.035-08:00</updated><title type='text'>Penelitian Teknologi Informasi (TI)</title><content type='html'>&lt;div id="main_image"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="crosscol-wrapper" style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;    &lt;!-- google_ad_section_start --&gt;  &lt;a name="5921132278326308043"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://berbagai-informasi.blogspot.com/2008/11/penelitian-teknologi-informasi-ti.html"&gt;Penelitian Teknologi Informasi (TI)&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penelitian Teknologi Informasi (TI)&lt;/strong&gt; cukup berbeda dengan penelitian di bidang sosial kemasyarakatan. Umumnya penelitian TI tidak mempunyai metodelogi yang jelas, tidak ada pembuatan kuesioner, tidak ada pengolahan data dan hanya sedikit yang mencakup analisa hasil. Penelitian di bidang TI, sepanjang yang pernah saya amati, bisa mencakup beberapa jenis penelitian termasuk:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Penelitian Murni TI&lt;/strong&gt;: Penelitian jenis ini merupakan penelitian yang berusaha&lt;br /&gt;memecahkan permasalahan-permasalahan yang muncul terkait bidang TI dengan mencari solusi-solusi yang bersifat fundamental. Umumnya penelitian ini banyak berkecimpung mempelajari teori-teori yang ada untuk dapat mengembangkan teori-teori fundamental terkait lainnya. Beberapa penelitian yang bisa termasuk di dalam cakupan ini antara lain pengembangan: &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Metodologi pengembangan sistem informasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metodologi pembuatan &lt;em&gt;data warehouse&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode-metode &lt;em&gt;data mining/soft-computing&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konsep jaringan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode searching&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori Optimasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode Pemilihan Variabel&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem keamanan jaringan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode enkripsi dekripsi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa pemrograman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode penyimpan data&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode pengolahan citra&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode pengenalan pola&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Among others&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Penelitian Terapan TI&lt;/strong&gt;: Penelitian terapan di bidang TI lebih mengacu pada penelitian yang memanfaatkan teori atau metode, yang telah dikembangkan orang lain dalam cakupan penelitian murni TI, di dalam pengembangan penelitian lanjutan. Beberapa penelitian yang bisa dimasukkan di dalam cakupan penelitian ini antara lain pengembangan: &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sistem kontrol berbasis &lt;em&gt;soft-computing&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hardware yang menerapkan metode penyimpanan data baru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode analisa kedokteran berbasis &lt;em&gt;soft-computing&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penelitian yang membandingkan antara teori/metode &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem operasi yang berbasis &lt;em&gt;open source&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem database dengan sistem &lt;em&gt;indexing&lt;/em&gt; data baru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode peningkatan efektifitas jaringan berbasis &lt;em&gt;data mining&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem pencarian dengan metode searching baru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Word processing&lt;/em&gt; dengan metode &lt;em&gt;spell checker&lt;/em&gt; baru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem database dengan metode penyimpan data baru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aplikasi pengolahan citra dengan metode pengolahan baru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aplikasi pemodelan data yang mengakomodasi metode baru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Program-program (DLL atau JSP) untuk metode tertentu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bioinformatics dan Biomedik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penerapan Metode TI di Bidang Lain (Ekonomi, Sosial dll)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Among others&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Penelitian Pengembangan Sistem&lt;/strong&gt;: Sistem yang dimaksud di sini merefer pada sistem yang dapat dipergunakan langsung oleh pengguna seperti sistem informasi dan sistem jaringan. Penelitian jenis ini umumnya berusaha menerapkan berbagai teori atau metode yang telah dikembangkan baik dalam cakupan penelitian murni maupun penelitian terapan seperti sistem database, bahasa pemrograman, konsep jaringan dan lain-lain. Penelitian yang tercakup umumnya mencakup pengembangan sistem untuk tujuan perorangan/komunitas tertentu seperti pengembangan: &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sistem informasi keuangan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem pakar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem pendukung keputusan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem data warehouse&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem digital library&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem mobile dictionary&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem jaringan berbasis &lt;em&gt;open source &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Among others&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Dibandingkan dengan penelitian murni dan terapan bidang TI, penelitian jenis ini sekarang ini kelihatannya masih lebih banyak diminati oleh mahasiswa TI Indonesia dalam proses penyelesaian kegiatan belajar mereka. Penelitian jenis ini juga sudah jelas tata cara pelaksanaannya, karena metodologi pengembangan sistem umumnya sudah pernah diusulkan dalam tahapan penelitian murni. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Penelitian Terkait Penggunaan dan Manajemen TI&lt;/strong&gt;: Belakangan ini, dengan berkembangnya penerapan TI di masyarakat, keilmuan tentang efektivitas penggunaan dan keilmuan di bidang manajemen TI juga semakin berkembang. Penelitian terkait dengan keilmuan-keilmuan tersebut juga banyak dilakukan. Walaupun masih dalam ruang lingkup TI, penelitian jenis ini mungkin lebih banyak dikaitkan dengan penelitian bidang sosial kemasyarakatan, karena yang menjadi objek penelitian biasanya adalah &lt;em&gt;user&lt;/em&gt;/pengguna TI, &lt;em&gt;administrator&lt;/em&gt; TI atau &lt;em&gt;provider&lt;/em&gt; TI. Sehingga kemungkinan untuk menerapkan metodologi penelitian seperti halnya penelitian di bidang sosial kemasyarakatan sangat besar.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Mungkin ada yang masih memperdebatkan apakah kegiatan pengembangan sistem termasuk sebagai suatu kegiatan penelitian atau tidak. Kalau dilihat dari definisi dari kata penelitian (&lt;em&gt;research&lt;/em&gt;) itu sendiri yaitu:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Research&lt;/strong&gt; is a human activity based on intellectual investigation and is aimed at discovering, interpreting, and revising human knowledge on different aspects of the world. Research can use the scientific method, but need not do so.(sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Research)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;kegiatan penelitian pada hakekatnya mempunyai tujuan untuk &lt;strong&gt;menemukan, menginterpretasikan ataupun merevisi pengetahuan &lt;/strong&gt;yang ada di masyarakat. Sehingga, penelitian yang melibatkan kegiatan pengembangan sistem, karena tidak mencakup unsur menemukan, menginterpretasikan ataupun merevisi pengetahuan masyarakat, memang masih bisa menjadi bahan perdebatan apakah kegiatan tersebut bisa dimasukkan ke dalam kegiatan penelitian bidang TI atau tidak. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengikuti perkembangan pendidikan tinggi TI Indonesia dan merefer bahwa, pengembangan sistem masih banyak diminati oleh mahasiswa TI di Indonesia sebagai bahan skripsi, saya sendiri secara pribadi berpendapat bahwa pengembangan sistem yang dilakukan dalam tatanan perkuliahan masih termasuk dalam pengerjaan projek (&lt;em&gt;assignment&lt;/em&gt;) dari suatu perkuliahan, yang mungkin hanya bisa dijadikan tugas akhir (projek akhir) dari mahasiswa dengan level di bawah S1 (D1, D2, dan D3).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5932126180387242956-5064043140840754553?l=nugrahanews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nugrahanews.blogspot.com/feeds/5064043140840754553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5932126180387242956&amp;postID=5064043140840754553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/5064043140840754553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/5064043140840754553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nugrahanews.blogspot.com/2008/11/penelitian-teknologi-informasi-ti.html' title='Penelitian Teknologi Informasi (TI)'/><author><name>Nugraha's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17733980804747855374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5932126180387242956.post-6051602706485629658</id><published>2008-11-28T19:51:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T19:52:55.492-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil sekolah'/><title type='text'>SMPN 1 Denpasar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;SMPN 1 Denpasar .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; Sekolah berstandar Internasional yang terletak di Jl Surapati no. 2 Dps ini merupakan salah satu sekolah unggulan di Bali. Dengan meraih peringkat 1 NUN 2008 se-Indonesia, membuat nama SMP ini semakin tersohor.&lt;br /&gt;Secara fisik, keadaan Spensa Dps memang belum bisa mencerminkan Sekolah Berstandar Internasional, yang dalam pandangan masyarakat memiliki gedung yang serba mewah. Namun dari segi prestasi, SMPN 1 Dps tak usah diragukan lagi. Berbagai macam gelar juara dan penghargaan diterima oleh sekolah ini. Bahkan beberapa siswa mencapai prestasi hingga ke tingkat Internasional.&lt;br /&gt;Seperti layaknya SMP lain di Indonesia, SMPN 1 Dps terbagi menjadi 3 kelompok besar. Kelas 7 (6 kelas) kelas 8 (8 kelas) kelas 9 (8 kelas). Kelas 9 terbagi menjadi accelerasi, bilingual, dan reguler. Sedangkan kelas 7 dan 8 memiliki kelas SBI sebagai ganti kelas bilingual.&lt;br /&gt;Sebenarnya, kelas SBI dan bilingual sama saja, dimana mereka sama-sama menggunakan bahasa inggris dalam pelajaran eksak. Sedangkan yang membedakan hanya status dan fasilitas.&lt;br /&gt;Kurangnya fasilitas sekolah kadang menjadi kendala bagi siswa. Contohnya tidak meratanya pemberian AC bagi setiap kelas, yang membuat siswa yang tak mendapat fasilitas merasa tak adil. Langit-langit kelas di bagian gedung sebelah selatan yang bolong dan bocor juga mendapat banyak keluhan dari siswa.&lt;br /&gt;   Namun disamping hal tersebut diatas, SMPN 1 Denpasar bisa dikategorikan sebagai sebuah sekolah yang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAIK&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5932126180387242956-6051602706485629658?l=nugrahanews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nugrahanews.blogspot.com/feeds/6051602706485629658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5932126180387242956&amp;postID=6051602706485629658' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/6051602706485629658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/6051602706485629658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nugrahanews.blogspot.com/2008/11/smpn-1-denpasar.html' title='SMPN 1 Denpasar'/><author><name>Nugraha's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17733980804747855374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5932126180387242956.post-919862860395677764</id><published>2008-11-28T19:38:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T19:45:23.729-08:00</updated><title type='text'>The Phenomenology of Internet Addiction</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;b&gt;Title:&lt;/b&gt;     &lt;b&gt;The Phenomenology of Internet Addiction&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Reference #:&lt;/b&gt;     ITRI-IP008-0701&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Date:&lt;/b&gt;     7/1/2001&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Authors:&lt;/b&gt;     Jeff B. Murray, Univ of Arkansas&lt;br /&gt;Swinder Janda, Kansas State Univ&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Abstract:&lt;/b&gt; The purpose of this research is to explore in-depth the experience of a pitfall called ''internet addiction.'' Internet addiction is a broad term covering a wide variety of behaviors and impulse-control problems. Nearly 6% of 17,251 respondents in an online survey met the criteria for compulsive internet use and over 30% report using the net to escape from negative feelings. The vast majority admitted to feelings of time distortion, accelerated intimacy, and feeling uninhibited when online. Rather than using psychiatric conceptualizations of chemical and behavioral ''addiction,'' this research is using the phrase ''internet addiction'' in a broader context emphasizing the potential damage internet overuse may cause in one's life. Why is the technology intoxicating for some consumers? What type of consumer becomes addicted to the internet? What do internet addicted behaviors look like? What areas of an individual's life are negatively affected by such addiction?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;~~Another Research~~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Title:&lt;/b&gt;     &lt;b&gt;The Influence of Professional Identification on the Retention of Women and Racial Minorities in the IT Workforce&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Reference #:&lt;/b&gt;     ITRI-IP015-1101&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Date:&lt;/b&gt;     11/1/2001&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Authors:&lt;/b&gt;     Anne O'Leary-Kelly, University of Arkansas&lt;br /&gt;Bill Hardgrave, University of Arkansas&lt;br /&gt;Vicki McKinney, University of Arkansas&lt;br /&gt;Darryl Wilson, University of Arkansas&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Abstract:&lt;/b&gt; Professional identification reflects the degree to which an individualâ€™s valued self-image derives from attachment to a profession. Once individuals become strongly identified with their profession, they will want to remain in the profession, and turnover becomes less likely. If professional identification is an important precursor to career persistence, and if women and racial minorities are underrepresented in IT, this suggests that the professional identification of these individuals may be weaker than that of majority (male, racial majority) IT workers. The purpose of this research is twofold: 1) to explore whether differences in individual characteristics and situational experiences lead women and minorities to develop different levels of professional identification (compared to majority individuals), and 2) to examine the influence of professional identification on the career persistence of IT workers. Specifically, this research will determine whether women and minorities undergo differential treatment or experiences in the IT workplace that lead to lower levels of identification with the profession. Note: Nine ITRC members have already pledged their participation in this project; we encourage participation from all ITRC members.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;~~Research, again ! ~~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Title:&lt;/b&gt;     &lt;b&gt;Human Resources, Information Technology, and Firm Performance: A Study of the Complementarities of Work Systems&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Reference #:&lt;/b&gt;     ITRI-IP002-0600&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Date:&lt;/b&gt;     6/1/2000&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Authors:&lt;/b&gt;     John Delery, Univ of Arkansas&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Abstract:&lt;/b&gt; The use of advanced information technology can result in jobs being up-skilled or down-skilled. It can increase the amount of information that is available to the work force; it can also increase the amount of control that can be maintained over the work force. Since technology has the power to change jobs in different ways, to make directional predictions about the influence of technology is necessary to investigate a specific technology in context. For example, up-skilled jobs necessitate higher levels of critical workforce characteristics; down-skilled jobs necessitate lower levels of these characteristics. Within the context of the motor carrier industry, the proposed research investigates the degree to which motor carriers have used information to up-skill jobs and empower drivers, versus deskill and control drivers. More importantly, the research will focus on the degree to which information technology influences the effectiveness of different strategies of HR management.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;want to know more about that researches ??&lt;br /&gt;click upon this --- &lt;u&gt;&lt;a href="http://itri.uark.edu/91.asp?code=ongoing"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Information Technology Research Institute&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;p class="blogger-labels"&gt;Labels: &lt;a rel="tag" href="http://princessofpioggia.blogspot.com/search/label/school%20stuff%20%3D%29"&gt;school stuff =)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5932126180387242956-919862860395677764?l=nugrahanews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nugrahanews.blogspot.com/feeds/919862860395677764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5932126180387242956&amp;postID=919862860395677764' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/919862860395677764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/919862860395677764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nugrahanews.blogspot.com/2008/11/phenomenology-of-internet-addiction.html' title='The Phenomenology of Internet Addiction'/><author><name>Nugraha's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17733980804747855374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5932126180387242956.post-1933714195301326531</id><published>2008-11-23T03:33:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T03:38:13.592-08:00</updated><title type='text'>Perkenalan Diri</title><content type='html'>Nama saya I KAdek Aditya Nugraha.&lt;br /&gt;Untuk lebih pendeknya, biasa dipanggil Nugi / Nugraha.&lt;br /&gt;Hingga skarang, saya bersekolah di SMPN 1 Denpasar dan diterima di kelas 8B.&lt;br /&gt;Dengan no. absen 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya membuat blog ini hanya untuk tugas skolah =P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5932126180387242956-1933714195301326531?l=nugrahanews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nugrahanews.blogspot.com/feeds/1933714195301326531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5932126180387242956&amp;postID=1933714195301326531' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/1933714195301326531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/1933714195301326531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nugrahanews.blogspot.com/2008/11/perkenalan-diri.html' title='Perkenalan Diri'/><author><name>Nugraha's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17733980804747855374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5932126180387242956.post-4166761131854183439</id><published>2008-10-06T01:01:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T01:23:46.883-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Geografi'/><title type='text'>GLOBAL WARMING</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMANASAN GLOBAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="thumb tright"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Pemanasan global&lt;/b&gt; adalah adanya proses peningkatan &lt;a title="Suhu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suhu"&gt;suhu&lt;/a&gt; rata-rata &lt;a title="Atmosfer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Atmosfer"&gt;atmosfer&lt;/a&gt;, &lt;a title="Laut" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Laut"&gt;laut&lt;/a&gt;, dan daratan &lt;a title="Bumi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi"&gt;Bumi&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ±  0.18 °&lt;a title="Celsius" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Celsius"&gt;C&lt;/a&gt;  (1.33 ± 0.32 °&lt;a title="Fahrenheit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fahrenheit"&gt;F&lt;/a&gt;) selama seratus tahun  terakhir. &lt;i&gt;&lt;a class="mw-redirect" title="Intergovernmental Panel on Climate Change" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Intergovernmental_Panel_on_Climate_Change"&gt;Intergovernmental  Panel on Climate Change&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar  peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan  besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi &lt;a title="Gas rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca"&gt;gas-gas rumah kaca&lt;/a&gt; akibat  aktivitas manusia"melalui &lt;a title="Efek rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_rumah_kaca"&gt;efek rumah kaca&lt;/a&gt;.  Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan  akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara &lt;a title="G8" href="http://id.wikipedia.org/wiki/G8"&gt;G8&lt;/a&gt;. Akan tetapi, masih terdapat  beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan  IPCC tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan  global akan meningkat &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;1.1 hingga  6.4 °C&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;(2.0 hingga  11.5 °F)&lt;/span&gt; antara tahun 1990 dan 2100.  Perbedaan angka perkiraan itu dikarenakan oleh penggunaan skenario-skenario  berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model  sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus  pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan  terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah  kaca telah stabil.  Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan  yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena  cuaca yang ekstrim,&lt;a title="Presipitasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Presipitasi"&gt;presipitasi&lt;/a&gt;. Akibat-akibat  pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya &lt;a title="Gletser" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gletser"&gt;gletser&lt;/a&gt;, dan  punahnya berbagai jenis hewan.&lt;/span&gt;  serta perubahan jumlah dan pola &lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah  pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan  serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah  ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik  di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi  atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap  konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di  dunia telah menandatangani dan meratifikasi &lt;a title="Protokol Kyoto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto"&gt;Protokol Kyoto&lt;/a&gt;, yang  mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Efek rumah kaca&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;dl style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;dd&gt;   &lt;div class="boilerplate" id="catmore"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a class="image" title="!" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Crystal_xmag.png"&gt;&lt;img alt="!" src="file:///E:/My%20document/Len_len/Internet/Pemanasan%20global%20-%20Wikipedia%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas%20berbahasa%20Indonesia_files/20px-Crystal_xmag.png" border="0" height="20" width="20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian  besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk &lt;a class="mw-redirect" title="Cahaya tampak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cahaya_tampak"&gt;cahaya tampak&lt;/a&gt;. Ketika  energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang  menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan  kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi &lt;a class="mw-redirect" title="Infra merah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Infra_merah"&gt;infra  merah&lt;/a&gt; gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap  terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah &lt;a title="Gas rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca"&gt;gas  rumah kaca&lt;/a&gt;&lt;a title="Uap air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uap_air"&gt;uap air&lt;/a&gt;, &lt;a title="Karbondioksida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbondioksida"&gt;karbondioksida&lt;/a&gt;, dan &lt;a title="Metana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metana"&gt;metana&lt;/a&gt; yang menjadi  perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali  radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan  tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan  mengakibatkan suhu rata-rata tahunan &lt;a title="Bumi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi"&gt;bumi&lt;/a&gt; terus meningkat.&lt;/span&gt; antara lain &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam &lt;a title="Rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_kaca"&gt;rumah kaca&lt;/a&gt;. Dengan semakin  meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang  terperangkap di bawahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup  yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan  temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33  °C (59 °F) dengan efek rumah kaca  (tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan  Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di  atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a id="Efek_umpan_balik" name="Efek_umpan_balik"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Efek umpan balik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai  proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan &lt;a title="Air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air"&gt;air&lt;/a&gt;. Pada kasus pemanasan  akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;, pemanasan pada  awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang &lt;a title="Penguapan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penguapan"&gt;menguap&lt;/a&gt; ke atmosfer. Karena &lt;a title="Uap air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uap_air"&gt;uap air&lt;/a&gt; sendiri  merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap  air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek  rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas  CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air  absolut di udara, &lt;a title="Kelembaban relatif" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelembaban_relatif"&gt;kelembaban relatif&lt;/a&gt;  udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi  menghangat).&lt;sup class="reference" id="cite_ref-soden1_3-0"&gt;&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global#cite_note-soden1-3"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;  Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena  CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; memiliki usia yang panjang di atmosfer.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Efek-efek umpan balik karena pengaruh &lt;a title="Awan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Awan"&gt;awan&lt;/a&gt; sedang menjadi objek  penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi  infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan.  Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari  dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan.  Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa  detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail  ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat  kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam  model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan  Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada  peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif  (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan  IPCC ke Empat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya  (&lt;i&gt;&lt;a title="Albedo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Albedo"&gt;albedo&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;  oleh es.  Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan  kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan  atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan  memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan  menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan  menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang  berkelanjutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Umpan balik positif akibat terlepasnya CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; dan CH&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; dari  melunaknya tanah beku &lt;i&gt;(&lt;a class="new" title="Permafrost (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Permafrost&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;permafrost&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; yang juga menimbulkan umpan balik  positif.&lt;/span&gt;  adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es  yang meleleh juga akan melepas CH&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia  menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona  mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan &lt;a title="Diatom" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Diatom"&gt;diatom&lt;/a&gt; daripada &lt;a title="Fitoplankton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fitoplankton"&gt;fitoplankton&lt;/a&gt; yang merupakan  penyerap karbon yang rendah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" class="mw-headline"&gt;Variasi Matahari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terdapat ipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan  kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam  pemanasan saat ini.&lt;a title="Stratosfer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stratosfer"&gt;stratosfer&lt;/a&gt; sebaliknya efek  rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah  paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,  yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama  pemanasan saat ini. (Penipisan &lt;a title="Lapisan ozon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lapisan_ozon"&gt;lapisan ozon&lt;/a&gt; juga dapat  memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai  akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas  gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri  hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.&lt;/span&gt;  Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah  meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari  mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari &lt;i&gt;Duke  University&lt;/i&gt; mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi  terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode  1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000.  Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat  ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan  dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari  debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.  Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan  sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar  pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas  rumah kaca.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari &lt;a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt;, &lt;a title="Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman"&gt;Jerman&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Swiss" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Swiss"&gt;Swiss&lt;/a&gt; menyatakan bahwa  mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari  pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil  sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini  terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global.  Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan  antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui  variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);" class="mw-headline"&gt;Mengukur pemanasan global&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;div style="color: rgb(0, 0, 0);" class="thumb tright"&gt; &lt;div class="thumbinner" style="width: 282px;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a class="image" title="Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mauna_Loa_Carbon_Dioxide.png"&gt;&lt;img class="thumbimage" alt="Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa" src="file:///E:/My%20document/Len_len/Internet/Pemanasan%20global%20-%20Wikipedia%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas%20berbahasa%20Indonesia_files/280px-Mauna_Loa_Carbon_Dioxide.png" border="0" height="191" width="280" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan  mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global.  &lt;a title="Hipotesis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis"&gt;Hipotesis&lt;/a&gt;  ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program  penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel  atmosfer dari puncak gunung &lt;a title="Mauna Loa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mauna_Loa"&gt;Mauna Loa&lt;/a&gt; di &lt;a class="mw-redirect" title="Hawai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hawai"&gt;Hawai&lt;/a&gt;. Hasil pengukurannya  menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah  itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang  dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari  gas-gas rumah kaca di atmosfer.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa &lt;a title="Iklim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Iklim"&gt;iklim&lt;/a&gt; global semakin menghangat,  tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus  bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya.  Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang  menunjukkan suatu kecenderungan (&lt;i&gt;trend&lt;/i&gt;) yang jelas. Catatan pada akhir  1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data  statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya. &lt;a class="new" title="Stasiun cuaca (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stasiun_cuaca&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Stasiun  cuaca&lt;/a&gt; pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga  pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan  dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan.  Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak  jauh dari perkotaan), serta dari &lt;a title="Satelit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Satelit"&gt;satelit&lt;/a&gt;. Data-data ini  memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan  planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa  kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat  pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus  tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi  setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, &lt;i&gt;&lt;a class="mw-redirect" title="Intergovernmental Panel on Climate Change" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Intergovernmental_Panel_on_Climate_Change"&gt;Intergovernmental  Panel on Climate Change&lt;/a&gt; (IPCC)&lt;/i&gt; menyimpulkan bahwa temperatur udara  global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861.  Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktifitas manusia  yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan  temperatur rata-rata global akan meningkat &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;1.1  hingga 6.4 °C&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;(2.0 hingga  11.5 °F)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; antara tahun 1990 dan 2100.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer  tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama  periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Karbondioksida  akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu  menyerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli  memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga  kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan masa sebelum era industri.  Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya  peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah  Bumi, manusia akan menghadapi masalah ini dengan resiko populasi yang sangat  besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Model iklim&lt;/span&gt;&lt;img class="thumbimage" alt="Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario kestabilan (pita berwarna) berdasarkan Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru menunjukkan batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi." src="file:///E:/My%20document/Len_len/Internet/Pemanasan%20global%20-%20Wikipedia%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas%20berbahasa%20Indonesia_files/280px-IPCC_AR4_WGIII_GHG_concentration_stabilization_levels.png" border="0" height="143" width="280" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para ilmuan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model  computer berdasarkan prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi,  dan proses-proses lainya, dengan beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan  kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan bahwa penambahan gas-gas  rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat.  Walaupun digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca  di masa depan, &lt;a class="new" title="Sensitivitas iklim (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sensitivitas_iklim&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;sensitivitas  iklimnya&lt;/a&gt; masih akan berada pada suatu rentang tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan memasukkan unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah  kaca dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;1.1 °C hingga 6.4 °C&lt;/span&gt;&lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;(2.0 °F hingga 11.5 °F)&lt;/span&gt; antara  tahun 1990 dan 2100.  Model-model iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab perubahan  iklim yang terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang teramati dengan  hasil prediksi model terhadap berbagai penyebab, baik alami maupun aktivitas  manusia.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Model iklim saat ini menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan  temperature global hasil pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak  mensimulasi semua aspek dari iklim.  Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi  antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oleh proses alami atau aktivitas  manusia; akan tetapi; mereka menunjukkan bahwa pemanasan sejak tahun 1975  didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitung iklim di masa depan,  dilakukan berdasarkan skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan  Khusus terhadap Skenario Emisi (&lt;i&gt;&lt;a class="new" title="Special Report on Emissions Scenarios (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Special_Report_on_Emissions_Scenarios&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Special  Report on Emissions Scenarios&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; / SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model  menghitung dengan menambahkan simulasi terhadap &lt;a title="Siklus karbon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_karbon"&gt;siklus karbon&lt;/a&gt;; yang  biasanya menghasilkan umpan balik yang positif, walaupun responnya masih belum  pasti (untuk skenario A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan 20 dan  200 ppm CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;). Beberapa studi-studi juga menunjukkan beberapa  umpan balik positif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan  ketidakpastian terhadap model-model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang  telah ada kemajuan dalam menyelesaikan masalah ini.   Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah  model-model iklim mengesampingkan efek-efek umpan balik dan tak langsung dari &lt;a title="Variasi Matahari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Variasi_Matahari"&gt;variasi Matahari&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a id="Dampak_pemanasan_global" name="Dampak_pemanasan_global"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Dampak pemanasan global&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan  sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model  tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan  global terhadap &lt;a title="Cuaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cuaca"&gt;cuaca&lt;/a&gt;, tinggi permukaan air laut,  &lt;a title="Pantai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pantai"&gt;pantai&lt;/a&gt;, &lt;a title="Pertanian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian"&gt;pertanian&lt;/a&gt;,  kehidupan hewan liar dan kesehatan &lt;a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia"&gt;manusia&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a id="Cuaca" name="Cuaca"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Cuaca&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara  dari belahan Bumi Utara (&lt;i&gt;Northern Hemisphere&lt;/i&gt;) akan memanas lebih dari  daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan  akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut.  Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan  mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi  salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan  lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada &lt;a title="Musim dingin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musim_dingin"&gt;musim dingin&lt;/a&gt; dan malam hari  akan cenderung untuk meningkat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap  dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah &lt;a class="mw-redirect" title="Kelembaban" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelembaban"&gt;kelembaban&lt;/a&gt;  tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi.  Hal ini disebabkan karena &lt;a title="Uap air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uap_air"&gt;uap air&lt;/a&gt; merupakan &lt;a title="Gas rumah kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca"&gt;gas  rumah kaca&lt;/a&gt;, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek &lt;a class="new" title="Insulasi (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Insulasi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;insulasi&lt;/a&gt;  pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan  yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa  luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat &lt;a title="Siklus air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air"&gt;siklus  air&lt;/a&gt;). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara  rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah  hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun  terakhir ini).  &lt;a title="Badai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Badai"&gt;Badai&lt;/a&gt; akan menjadi  lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya  beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup  lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai  (&lt;i&gt;hurricane&lt;/i&gt;) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi  lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang  sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan  lebih ekstrim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Tinggi muka laut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat,  sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan  juga akan mencairkan baNyak es di kutub, terutama sekitar &lt;a title="Greenland" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Greenland"&gt;Greenland&lt;/a&gt;, yang lebih  memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah  meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC  memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad  ke-21.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah  pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah &lt;a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda"&gt;Belanda&lt;/a&gt;, 17,5  persen daerah &lt;a title="Bangladesh" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangladesh"&gt;Bangladesh&lt;/a&gt;, dan banyak  pulau-pulau. &lt;a title="Erosi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Erosi"&gt;Erosi&lt;/a&gt;  dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan  mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan.  Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi  daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan  evakuasi dari daerah pantai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem  pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa  pantai di &lt;a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt;.  Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah  yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari &lt;a class="new" title="Florida Everglades (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Florida_Everglades&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Florida  Everglade&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Pertanian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih  banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa  tempat. Bagian Selatan &lt;a title="Kanada" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanada"&gt;Kanada&lt;/a&gt;, sebagai contoh, mungkin  akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa  tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian &lt;a title="Afrika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika"&gt;Afrika&lt;/a&gt; mungkin tidak  dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari  gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika &lt;i&gt;snowpack&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; (kumpulan salju)  musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum  puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan  serangga dan penyakit yang lebih hebat.&lt;/p&gt; &lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Hewan dan tumbuhan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek  pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam  pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas  pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru  karena &lt;a title="Habitat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Habitat"&gt;habitat&lt;/a&gt;  lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan  menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau  selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan  mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub  mungkin juga akan musnah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Kesehatan manusia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang  terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa  ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan &lt;a title="Nyamuk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nyamuk"&gt;nyamuk&lt;/a&gt; dan hewan pembawa penyakit  lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang  sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia  tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa &lt;a title="Parasit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Parasit"&gt;parasit&lt;/a&gt; &lt;a title="Malaria" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaria"&gt;malaria&lt;/a&gt;;  persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat.  Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti &lt;a class="mw-redirect" title="Demam dengue" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Demam_dengue"&gt;demam dengue&lt;/a&gt;, &lt;a class="new" title="Demam kuning (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Demam_kuning&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;demam  kuning&lt;/a&gt;, dan &lt;i&gt;&lt;a class="new" title="Encephalitis (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Encephalitis&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;encephalitis&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;.  Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden &lt;a title="Alergi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alergi"&gt;alergi&lt;/a&gt; dan penyakit pernafasan  karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, &lt;a title="Spora" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Spora"&gt;spora&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;a class="new" title="Mold (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mold&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;mold&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;  dan &lt;a title="Serbuk sari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Serbuk_sari"&gt;serbuk sari&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Pengendalian pemanasan global&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Konsumsi total &lt;a title="Bahan bakar fosil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_bakar_fosil"&gt;bahan bakar fosil&lt;/a&gt; di  dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau  yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global  di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul  sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa  depan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat  dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara  lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah  yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan  tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan  tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara  perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang  lebih dingin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah  kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas  tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut &lt;i&gt;carbon  sequestration&lt;/i&gt; (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah  kaca.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Menghilangkan karbon&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah  dengan memelihara pepohonan dan menanam &lt;a title="Pohon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pohon"&gt;pohon&lt;/a&gt; lebih banyak lagi. Pohon,  terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat  banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam &lt;a title="Kayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu"&gt;kayunya&lt;/a&gt;. Di seluruh  dunia, tingkat perambahan &lt;a title="Hutan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan"&gt;hutan&lt;/a&gt; telah mencapai level yang  mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali  karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain,  seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk  mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam  mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan  menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong  agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat &lt;i&gt;&lt;a class="new" title="Enhanced Oil Recovery (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Enhanced_Oil_Recovery&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Enhanced  Oil Recovery&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di  bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau &lt;i&gt;aquifer&lt;/i&gt;.  Hal ini telah dilakukan di salah satu &lt;a class="mw-redirect" title="Anjungan pengeboran lepas pantai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Anjungan_pengeboran_lepas_pantai"&gt;anjungan  pengeboran lepas pantai&lt;/a&gt; &lt;a title="Norwegia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Norwegia"&gt;Norwegia&lt;/a&gt;, di mana  karbondioksida yang terbawa ke permukaan bersama &lt;a title="Gas alam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_alam"&gt;gas alam&lt;/a&gt; ditangkap dan  diinjeksikan kembali ke &lt;i&gt;aquifer&lt;/i&gt; sehingga tidak dapat kembali ke  permukaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar  fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak &lt;a class="mw-redirect" title="Revolusi industri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_industri"&gt;revolusi industri&lt;/a&gt; pada  abad ke-18. Pada saat itu, &lt;a title="Batubara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batubara"&gt;batubara&lt;/a&gt; menjadi sumber energi  dominan untuk kemudian digantikan oleh &lt;a title="Minyak bumi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_bumi"&gt;minyak bumi&lt;/a&gt; pada pertengahan  abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai  sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara  tidak langsung telah mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara,  karena gas melepaskan karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan  minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan  &lt;a title="Energi terbaharui" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Energi_terbaharui"&gt;energi terbaharui&lt;/a&gt; dan  &lt;a title="Daya nuklir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daya_nuklir"&gt;energi  nuklir&lt;/a&gt; lebih mengurangi pelepasan karbondioksida ke udara. Energi nuklir,  walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya,  bahkan tidak melepas karbondioksida sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Persetujuan internasional&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas  rumah kaca. Di tahun 1992, pada &lt;i&gt;&lt;a class="new" title="Earth Summit (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Earth_Summit&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Earth  Summit&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; di &lt;a title="Rio de Janeiro" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rio_de_Janeiro"&gt;Rio de Janeiro&lt;/a&gt;, &lt;a class="mw-redirect" title="Brazil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brazil"&gt;Brazil&lt;/a&gt;, 150 negara berikrar untuk  menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini  dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di &lt;a title="Jepang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang"&gt;Jepang&lt;/a&gt;, 160 negara merumuskan  persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan &lt;a title="Protokol Kyoto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto"&gt;Protokol Kyoto&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38  negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan  gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah  emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012.  Pada mulanya, &lt;a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt;  mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan  pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; &lt;a title="Uni Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uni_Eropa"&gt;Uni Eropa&lt;/a&gt;, yang menginginkan  perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122  negara lainnya, sebagian besar &lt;a title="Negara berkembang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negara_berkembang"&gt;negara berkembang&lt;/a&gt;,  tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akan tetapi, pada tahun 2001, &lt;a class="mw-redirect" title="Presiden Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Presiden_Amerika_Serikat"&gt;Presiden Amerika  Serikat&lt;/a&gt; yang baru terpilih, &lt;a title="George W. Bush" href="http://id.wikipedia.org/wiki/George_W._Bush"&gt;George W. Bush&lt;/a&gt;&lt;a title="Rusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia"&gt;Rusia&lt;/a&gt; &lt;a title="Vladimir Putin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Vladimir_Putin"&gt;Vladimir Putin&lt;/a&gt;  meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini  mulai &lt;a title="16 Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/16_Februari"&gt;16  Februari&lt;/a&gt; 2005.&lt;/span&gt;  mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbondioksida tersebut menelan  biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa  negara-negara berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan  karbondioksida ini. Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara  industri yang bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca  pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika  tahun 2004, Presiden &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian  ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya  konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan  diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan  dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada  2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan  terhadap perjanjian ini di &lt;a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt; terutama  dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara dan perusahaan-perusahaan  lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini  mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto  dapat menjapai 300 milyar dollar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi.  Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya  sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam  bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses  industri yang lebih effisien.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat  terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi  membatasi emisi karbondioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, &lt;a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda"&gt;Belanda&lt;/a&gt;, negara  industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi  berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi  produksi karbondioksida.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu  secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti  peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk  memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana  suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil  keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem  ini disebut &lt;a style="color: rgb(0, 0, 0);" title="Perdagangan karbon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_karbon"&gt;perdagangan karbon&lt;/a&gt;.  Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda,  dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang  lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini  diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah  kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih  dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit  emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni  Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5932126180387242956-4166761131854183439?l=nugrahanews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nugrahanews.blogspot.com/feeds/4166761131854183439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5932126180387242956&amp;postID=4166761131854183439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/4166761131854183439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5932126180387242956/posts/default/4166761131854183439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nugrahanews.blogspot.com/2008/10/global-warming.html' title='GLOBAL WARMING'/><author><name>Nugraha's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17733980804747855374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
